a
Sabtu, 16 April 2022

Inalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun, Ustaz Kondang ini Tutup Usia di Bulan Puasa, Begini Pandangan Ulama Tentang Orang yang Meninggal saat Ramadan

  Kepergian pendakwah kondang, Ustaz Arifin Ilham masih menorehkan duka yang mendalam terutama bagi keluarga yang ditinggalkan.



Ustaz Arifin Ilham meninggal dunia pada bulan Ramadan, tepatnya tanggal 22 Mei 2019 silam.


Menurut ulama, orang yang meninggal di bulan Ramadan seperti Ustaz Arifin Ilham memiliki keistimewaan.


Iklan – Artikel dilanjutkan di bawah

Kabar berpulangnya sang pendakwah dibagikan oleh sang putra Muhammad Alvin Faiz lewat Instagram pribadinya.


Alvin mengabarkan kepergian sang abi dengan mengunggah foto dirinya dipeluk Ustaz Arifin Ilham.


"Innalillahiwainnailaihirojiun Telah wafat Abi kami tercinta Abi @kh_m_arifin_ilham." tulis kabar duka dari Alvin Faiz.


Dia berdoa agar amal ibadah sang abi diterima di sisi Allah SWT.


Alvin menambahkan jika almarhum segera dipulangkan dari Malaysia.


Iklan – Artikel dilanjutkan di bawah

Sebelum tutup usia, Ustaz Arifin Ilham diketahui sempat berjuang melawan kanker kelenjar getah bening.


Kematian di Bulan Suci Ramadan Menurut Pandangan Ulama


Bulan suci ramadan menjadi bulan yang penuh karomah dan ampunan.


Di bulan penuh berkah ini umat muslim di seluruh dunia berloma-lomba meningkatkan amal ibadahnya dan berbuat baik.


Bulan suci ramadan menjadi satu dari 12 bulan yang selalu ditunggu-tunggu umat muslim.


Iklan – Artikel dilanjutkan di bawah

Al Quran dan hadis banyak mengisahkan tentang keutamaan bulan ramadan.


Satu keutamaannya yakni tentang pahala yang sangat besar ketika mengerjakan amalan-amalan di bulan ramadan.


Namun tidak semua orang beruntung dapat menjalankan puasa sebulan penuh di bulan ramadan.


Takdir terkadang berkata lain, tidak sedikit yang meninggal dunia di bulan Ramadan.


Timbul pertanyaan apakah mati di bulan Ramadan akan Khusnul Khatimah, apakah ada keistimewaan?


Melansir dari Bangkapos.com, Menurut Ustaz Adi Hidayat ada orang yang meninggal dunia bisa dilihat dari dua sudut pandang.


Sudut pandang pertama adalah waktu.


Waktu ada yang diistimewakan ada waktu harian seperti sepertiga malam, waktu bulanan dan tahunan seperti Ramadan.


Sudut pandang kedua, adalah sebaik apa amal soleh yang anda kerjakan.


"Apakah mereka yang fasik orang kriminal meninggal dunia saat ramadan, bahkan mungkin ada orang kafir meninggal saat bulan ramadan, apakah ini menandakan apakah ia orang baik dalam pandangan Allah, belum tentu," ujar Ustaz Adi Hidayat.


"Ukuran kebaikan itu kapan dia meninggal kita tidak bisa menentukan karena Allah mengatur sesuai dengan ajalnya," tambah Adi Hidayat.


Hal itu sesuai dengan firman Allah, " Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat pula memajukannya ( Q.S Al A'raf : 34).


Jika anda ingin meninggal dalam kebaikan maka tingkatkan amal Soleh, maka kapanpun anda meninggal kembali kepada Allah SWT, maka Anda akan diwafatkan dalam keadaan Husnul Khotimah.


Tidak jauh berbeda menurut Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)


Allah mengajarkan prinsip kepada manusia bahwa sebab mereka masuk surga adalah amal.


Seringkali Allah menyebut penjelasan, kalian masuk surga karena amal yang kalian kerjakan.


Firman Allah


وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ


“Itulah surga yang diberikan kepada kalian disebabkan amal yang telah kalian kerjakan.” (QS. az-Zukhruf: 72)


Allah juga berfirman,


وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ


“Mereka dipanggil, “ltulah surga yang diberikan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. al-A’raf: 43).


Dan masih banyak ayat yang semisal dengan ini.


Karena itu, waktu yang mulia maupun tempat yang mulia, tidak bisa menyebabkan penghuninya jadi mulia.


Dulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan antara Abu Darda dengan Salman al-Farisi Radhiyallahu ‘anhuma. Sehingga keduanya ibarat keluarga dekat.


Imam Malik membawakan riwayat dari Yahya bin Said, bahwa Abu Darda pernah menulis surat kepad

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

0 komentar:

Posting Komentar